Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat anak-anak yang meminta suatu benda atau barang kepada orang tuanya yang menurut pandangan orangtuanya belum layak dimiliki oleh anak tersebut, karena orang tua tahu kalau barang tersebut jika diberikan kepada anak kecil maka barang tersebut akan disalahgunakan atau bahkan dirusak. sehingga akibat dari keegoaan orang tua mereka tidak memberikan barang tersebut kepada anak tadi, walau anak itu menangis. yang lebih parah lagi sering sampai terjadi perkelahian antara anak dan orangtua.bila perilaku ini terjadi berulang-ulang maka tak pelak orang tua menghukumi anak tersebut dengan sebutan anak nakal, bodoh dan lain sebagainya.
Melihat peristiwa di atas munkin banyak orang yang menganggapnya hal yang biasa terjadi dalam hubungannya antara orangtua dan anaknya dalam mendidik anak-anaknya, namun saya melihatnya tidak begitu, ada hal yang tidak dipahami dari sikap anak yang seperti itu. anak kita tidak bisa kita nilai mereka itu tidak mau disiplin, tidak taat, atau pemarah.Mestinya kita memahami psikologi perkembangan anak pada masa-masa perkembangan seperti itu, sehingga kita tidak salah dalam membimbing dan mendidik mereka.
Para ahli pendidikan mengatakan bahwa anak itu bukanlah secangkir kosong yang harus kita isi air sesuai dengan keinginan kita, anak adalah benih-benih yang siap untuk berkembang mencapai kepada kesempurnaannya. kita sebagai orangtuanya atau gurunya hanyalah membimbing mereka menuju kesempurnaan itu.
Fitrah manusia itu adalah selalu ingin tahu, dia selalu mencari, mencari dan mencari tahu. dan tuhan memberikan kemampuan untuk itu dengan perangkat yang ada pada dirinya untuk melewati tahapan-tahapan pencapaian pengetahuan yang sistematis, proses dalam usaha mencari tahunya itu jangan sampai ada yang terlewati atau bahkan terputus, karena hal itu akan menghambat terhadap perkembangan pengetahuan anak. Pada tahapan-tahapan itu anak akan dikenalkan sampai kepada kemampuan dia untuk membuat suatu kongklusi atau teori.
Anak akan mendapatkan pengalaman yang menakjubkan dalam perkembangan otaknya ketika menemukan hal baru ketika kita tidak menghalanginya agar anak bisa menapaki tahapan - tahapan perkembangan itu adalah :
1. to know
Tahapan ini anak akan tergerak untuk mengetahui hal baru tersebut, dan dia akan berusaha untuk mencari tahu, contoh ketika anak melihat ibunya memegang telepon seluler anak tergerak untuk mengetahuinya lebih lanjut, pada tahapan ini orangtua atau guru jangan menghentikannya misalnya tidak memberikan telepon selular tersebut kepada anak, hal ini agar anak sampai kepada tahap pengetahuan ke dua,
2. to do
Ketika anak tergerak untuk mengetahuinya dia akan berusaha untuk menyentuhnya dengan sensor motoriknya, contoh anak akan meminta kepada ibunya untuk memegang telepon selular tadi, dia akan mencari tahu seperti apa telepon selular itu mulai dari bentuknya, warnanya, tombolnya,dan lain-lain. bila tapap ini selesai mereka akan berlanjut kepada tahap ke tiga,
3. to understand
Saat anak mengalami atau menyaksikan hal baru dia akan paham dan mengerti sesuai dengan hasil pengalamannya itu, seperti contoh di atas anak akan paham bahwa telepon selular itu bentuk, warna, tombol dan lain sebagainya seperti itu dan itu terekam di dalam memorinya, bila tahapan ini selesai anak akan beranjak kepada tahap ke empat,
4. to test
Tahapan ini anak akan tergerak untuk mencoba berkreasi hasil dari pemahaman sebelumnya, dia akan mencoba-coba dengan benda atau hal barunya itu, misalnya anak bisa saja mencoba untuk melempar, memakan, atau menggoreskan telepon seluler tersebut dengan benda lain. pada tahapan ini banyak orang tua atau pendidik yang takut jika benda yang dicoba diteliti oleh anaknya itu dirusak, apalagi kalau bendanya itu bernilai tinggi. padahal tidak usah takut, awasi saja dan bimbing anak menuju tahapan pengetahuan selanjutnya,
5. to analysis
Bila anak sampai pada tahap ini maka dia akan meneruskan penelitian pengalamannya tersebut kepada tahapan menganalisis benda atau hal barunya itu, dia akan menganalisis misalkan mengapa benda pecah belah itu jika di jatuhkan akan pecah. memang anak untuk mengerti kepada hal tersebut membutuhkan pengorbanan, tetapi itu tidak masalah sepanjang tujuannya untuk mengembangkan pemahaman anak,
6. to make teory
Dengan bimbingan dan pengertian, kita harus bisa mengantarkan anak kepada tahapan terakhir ini, dimana anak akan sampai kepada suatu pemahaman yang sempurna dari metodologi pencarian dia untuk mendapatkan pengetahuan, pada tahap ini anak akan bisa membuat kesimpulan atau bahkan menemukan teori baru dalam hidupnya. dia akan senang karena bisa melewati dan memahami pengetahuan barunya itu.
Tahapan-tahapan inilah yang bisa melejitkan kemampuan manusia menuju kesempurnaannya dalam mengembangkan akal dan pikirannya, metodologi pencarian pengetahuan inilah yang secara tiak disengaja dilakukan oleh Albert Einstain sehingga dia bisa menjadi ilmuan terkenal di dunia. sehingga bila anak diarahkan untuk terus bisa belajar dengan enam tahapan itu maka saya yakin anak kita bisa melewati kemampuan ilmuwan seperti Albert Einstain.
Kita mestinya memosisikan diri kita sebagai murid di hadapan anak kita, kita belajar dari mereka bagaimana kemampuan perkembangan anak-anak kita dalam menumbuhkan kecerdasannya, kita berlaga pura-pura tidak tahu saja ketika mendengarkan pengalaman anak kita ketika menceritakan pengalaman barunya, jangan mengacuhkan apalagi membiarkan mereka ketika anak menceritakan pemahaman barunya, sebab itu akan menjadikan anak menjadi trauma dan tidak mau lagi belajar dari pengalaman-pengalamannya itu.
Ciwaruga, 11 April 2010