Kamis, 21 November 2013

Aktivis dan Akademis

Kita selalu beranggapan bahwa siswa atau mahasiswa yang lebih mementingkan akademiknya akan lebih berhasil dibandingkan dengan siswa/mahasiswa yang aktiv dengan keikutsertaan dalam perkumpulan seperti OSIS, Himpunan mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa atau nama lainya. Hal semacam inilah yang terjadi sekarang di dunia pendidikan kita, pelajar/mahasiswa sudah tidak acuh lagi dengan masalah-masalah sosial yang ada di tengah masyarakatnya, mereka seolah - olah ada di atas menara gading yang asik dengan masturbasi akademiknya dan tercerabut dari masyarakat sekitar.

Pendidikan telah mengasingkan pelajar/mahasiswa kita dari realitas sosial yang ada di tengah-tengah mereka, mereka tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya jangankan masalah sosial kadang masalah pribadinya harus minta bantuan orang lain, dan ketika mereka sudah lulus mereka gagap melihat realita yang ada, mereka tidak terbiasa dengan problem yang datang saling beriringan. Hal ini berbalik dengan mereka yang aktiv menceburkan diri dalam organisasi yang ada di lembaga pendidikan, mereka lebih mandiri bahkan mampu menjadi pemecah masalah sosial. modal inilah yang membuat mereka yang saat belajar aktiv menjadi lebih siap menghadapi realitas personal dan sosialnya.

Lalu apa yang membedakan pelajar aktivis dan akademis, ada baiknya saya cuplikan pidato Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik.

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat."

ini adalah pengakuan yang jujur tapi menakutkan akan realitas yang tejadi dalam dunia pendidikan bahwa mereka yang berkutat dalam dunia akademik ternyata hanya menjadi budak dari sistem pendidikan yang ada. Erica mengakui bahwa dia bukanlah lulusan yang terbaik dibanding dengan teman-temannya, dia hanyalah berhasil menunjukan budak terpintar yang bertahan dalam sistem dan manut terhadap aturan yang dibuat sekolah. Apakah siswa lain yang aktiv dan gak terlalu mengejar nilai ujian sama Erica dianggap gagal? tidak, dalam cuplikan pidato selanjutnya dia berkata :

"Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Menurut beberapa riset mengatakan bahwa nilai ujian yang tinggi dari siswa lulusan sekolah tidak menentukan terhadap keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya, faktor-faktor pengembangan diri dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain lah yang terbukti menjadi faktor dominan dalam keberhasilan kehidupan seseorang.

BERJUANG UNTUK SUBANG YANG MAKMUR DAN MANDIRI

Indonesia merdeka sudah 68 tahun, namun realitas kehidupan masyarakat yang masih jauh dari cita-cita pendiri bangsa ini untuk hidup makmur dalam ekonominya, sehat jasmani dan rohaninya, sama kedudukannya dalam hukum, serta bisa mengenyam pendidikan yang murah dan berkualitas.
Kesejahteraan rakyat tidak meningkat karena rakyat tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah untuk dapa tmemberbaiki taraf hidupnya, rakyat mengharapkan stabilitas harga yang menjamin tersedianya bahan-bahan pokok dipasaran dengan murah, dan menjamin hasil pertanian tidak merugi, rakyat juga mengharapkan kemudahan dalam berusaha dan lapangan pekerjaan yang tersedia sehingga para pemuda bisa bekerja.

Dalam bidang pendidikan masyarakat masih kesulitan menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya terutama untuk jenjang SLTA ke atas, hal ini disebabkan biaya yang tinggi dan akses ke sekolah yang jauh. Begitu pula dengan pendidikan agama / Budi Pekerti yang kurang mendapat perhatian yang serius sehingga banyak lembaga pendidikan agama yang terbengkalai hal inilah salah satu yang menyebabkan budi pekerti masyarakat menjadi rusak.Saat rakyat sakit mereka juga kesusahan karena biaya kesehatan dan obat-obatan yang tinggi ditambah lagi dengan pelayanan kesehatan yang kurang berkualitas dan kurang ramah terhadap pasien.

Melihat kondisi masyarakat seperti itu hati nurani kami terpanggil untuk mengabdikan diri berjuang dan berusahabersama-sama rakyat memperbaiki kehidupan yang lebih baik yang makmur dan mandiri. Seorang intelektual harus hadir ditengah-tengah masyarakat untuk memperjuangkan kondisi masyarakatnya yang hidup serba sulit ini.

Dalam memperjuangkan masalah social ini perlu wadah atau institusi organisasi yang bisa dijadikan alat untukmenyelesaikan masalah tersebut, sebab masalah social tidak bisa diselesaikan secara sendiri-sendiri tetapi harus melalui lembaga atau organisasi. Setelah melihat dan mempelajari beberapa organisasi partai politik yang ada saat ini, pilihan kami jatuh kepada Partai Hati Nurani Rakyat (Partai HANURA) no. 10 (sepuluh) yang dipimpin oleh Bapak H. Wiranto SH.

Pada pemilihan umum (PEMILU) legislative tahun 2014 mendatang insya Allah saya mencalonkan diri menjadi Calon Anggota DewanPerwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Subang dari Partai Hanura nomor urut 4. untuk daerah pemilihan (dapil) Subang 2 (dua) yang meluputi : Kec. Tanjungsiang, Kec. Cisalak, Kec. Kasomalang, Kec. Jalancagak, Kec. Ciater, Kec. Sagalaherang dan Kec. Serang Panjang.

Semoga niat dan rencana perjuangan saya dengan dasar untuk ibadah dan bekerja untuk sesama ini mendapat dukungan dari semuanya.

Pesantren dan Pembangunan Karakter Bangsa

Akhir-akhir ini bangsa kita dihadapkan dengan kondisi moralitas bangsa yang merosot pada titik yang paling mangkhwatirkan, betapa tidak keterpurukan moralitas bangsa sudah merata ke seluruh institusi lembaga negara yang ada di negara kita, korupsi sudah mewabah dari mulai lembaga eksekutif, legislatif, bahkan terakhir lembaga yang seharusnya jadi benteng terakhir pun sebagai lembaga yang menangani hukum terjebak kepada masalah korupsi.

Apa yang salah dengan negara ini sehingga para pemimpin kita sudah tidak dapat lagi mengemban amanah yang diberikan oleh rakyat selama ini, apakah memang hukum kita lemah sehingga menjadikan pelaku korupsi tidak pernah jera untuk melakukan tindakan tak terpujinya, atau karena tuntutan gaya hidup yang semakin tinggi sehingga berbagai cara dilakukan untuk memenuhi hasrat hidup duniawinya yang tinggi.

Perlu kita ketahui bahwa disadari atau tidak para pemimpin kita adalah hasil didikan dari lembaga pendidikan yang ada di negara kita, sistem dan metoda pendidikan yang diterapkan di lembaga pendidikan berpengaruh kepada hasil / lulusannya. Kita bisa melihat bahwa pola pendidikan nasional kita lebih cenderung kepada pemenuhan-pemenuhan dimensi fisik, psikomotorik dan kognitif saja yang lebih utama, sementara dimensi manusia lainya yaitu spiritualitas/ruhaniyahnya kurang diperhatikan secara mendalam, padalah perlu kita ketahui bahwa pembangunan spiritualitas/ruhaniyah/kejiwaan yang orang barat menyebutnya dengan soft skill itu akan berdampak baik kepada sisi lahiriyah/jasadiyah manusia.

Berdasarkan kepada hal itu maka lembaga pendidikan yang selama ini konsen dan serius sejak dulu menekankan kepada siswanya akan materi pendidikan keruhaniyahan adalah pesantren, para guru / ustad / kyai meyakini dengan sepenuh hati bahwa yang akan menyelamatkan manusia dari godaan dunia dan siksaan akhirat adalah dengan bagaimana jiwa-jiwa manusianya disucikan, diarahkan, dan didekatkan kepada penciptanya yaitu Tuhan yang maha esa Alla SWT. pondasi inilah yang dikuatkan oleh para pendidik yang ada dipesantren. sehingga kelak jabatan apapun yang ada dipundaknya, kekayaan apapun yang dimilikinya, muaranya akan senantiasa diarahkan untuk mencari ridha Allah SWT. maka dengan begitu perilaku-prilaku tercela akan senantiasa dijauhi termasuk perilaku korupsi.

Pemerintah mesti sadar akan hal ini, eksistensi lembaga pesantren harus terus dijaga dan dikembangkan sehingga lulusan - lulusan pesantren akan menjadi manusia-manusia unggul (insan kamil) yang senantiasa menjadi teladan bagi sesamanya. Dengan menjaga dan mengembangkan lembaga Pesantren salah satu dampaknya adalah uang negara tidak habis dikorupsi oleh pejabatnya, uang negara menjadi alat untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya.