Kita selalu beranggapan bahwa siswa atau mahasiswa yang lebih
mementingkan akademiknya akan lebih berhasil dibandingkan dengan
siswa/mahasiswa yang aktiv dengan keikutsertaan dalam perkumpulan
seperti OSIS, Himpunan mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa, unit
kegiatan mahasiswa atau nama lainya. Hal semacam inilah yang terjadi
sekarang di dunia pendidikan kita, pelajar/mahasiswa
sudah tidak acuh lagi dengan masalah-masalah sosial yang ada di tengah
masyarakatnya, mereka seolah - olah ada di atas menara gading yang asik
dengan masturbasi akademiknya dan tercerabut dari masyarakat sekitar.
Pendidikan telah mengasingkan pelajar/mahasiswa kita dari realitas sosial yang ada di tengah-tengah mereka, mereka tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya jangankan masalah sosial kadang masalah pribadinya harus minta bantuan orang lain, dan ketika mereka sudah lulus mereka gagap melihat realita yang ada, mereka tidak terbiasa dengan problem yang datang saling beriringan. Hal ini berbalik dengan mereka yang aktiv menceburkan diri dalam organisasi yang ada di lembaga pendidikan, mereka lebih mandiri bahkan mampu menjadi pemecah masalah sosial. modal inilah yang membuat mereka yang saat belajar aktiv menjadi lebih siap menghadapi realitas personal dan sosialnya.
Lalu apa yang membedakan pelajar aktivis dan akademis, ada baiknya saya cuplikan pidato Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik.
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat."
ini adalah pengakuan yang jujur tapi menakutkan akan realitas yang tejadi dalam dunia pendidikan bahwa mereka yang berkutat dalam dunia akademik ternyata hanya menjadi budak dari sistem pendidikan yang ada. Erica mengakui bahwa dia bukanlah lulusan yang terbaik dibanding dengan teman-temannya, dia hanyalah berhasil menunjukan budak terpintar yang bertahan dalam sistem dan manut terhadap aturan yang dibuat sekolah. Apakah siswa lain yang aktiv dan gak terlalu mengejar nilai ujian sama Erica dianggap gagal? tidak, dalam cuplikan pidato selanjutnya dia berkata :
"Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”
Menurut beberapa riset mengatakan bahwa nilai ujian yang tinggi dari siswa lulusan sekolah tidak menentukan terhadap keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya, faktor-faktor pengembangan diri dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain lah yang terbukti menjadi faktor dominan dalam keberhasilan kehidupan seseorang.
Pendidikan telah mengasingkan pelajar/mahasiswa kita dari realitas sosial yang ada di tengah-tengah mereka, mereka tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya jangankan masalah sosial kadang masalah pribadinya harus minta bantuan orang lain, dan ketika mereka sudah lulus mereka gagap melihat realita yang ada, mereka tidak terbiasa dengan problem yang datang saling beriringan. Hal ini berbalik dengan mereka yang aktiv menceburkan diri dalam organisasi yang ada di lembaga pendidikan, mereka lebih mandiri bahkan mampu menjadi pemecah masalah sosial. modal inilah yang membuat mereka yang saat belajar aktiv menjadi lebih siap menghadapi realitas personal dan sosialnya.
Lalu apa yang membedakan pelajar aktivis dan akademis, ada baiknya saya cuplikan pidato Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik.
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat."
ini adalah pengakuan yang jujur tapi menakutkan akan realitas yang tejadi dalam dunia pendidikan bahwa mereka yang berkutat dalam dunia akademik ternyata hanya menjadi budak dari sistem pendidikan yang ada. Erica mengakui bahwa dia bukanlah lulusan yang terbaik dibanding dengan teman-temannya, dia hanyalah berhasil menunjukan budak terpintar yang bertahan dalam sistem dan manut terhadap aturan yang dibuat sekolah. Apakah siswa lain yang aktiv dan gak terlalu mengejar nilai ujian sama Erica dianggap gagal? tidak, dalam cuplikan pidato selanjutnya dia berkata :
"Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”
Menurut beberapa riset mengatakan bahwa nilai ujian yang tinggi dari siswa lulusan sekolah tidak menentukan terhadap keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya, faktor-faktor pengembangan diri dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain lah yang terbukti menjadi faktor dominan dalam keberhasilan kehidupan seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar